Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kutipan Bertenaga 13 - Hasan Aspahani

sumber gambar: www.thegraphicsfairy.com
Penyair yang baik adalah pemulia puisi dan bahasa.

Seperti pemulia tanaman ia terobsesi untuk menghasilkan tanaman unggul, lewat serangkaian percobaan penyilangan. Ia membaca banyak puisi seperti mengumpulkan plasma nutfah, mencari sifat-sifat unggul, dari berbagai tanaman, memetakan gen, lalu memadukan fenotif yang ia inginkan pada hibrida baru.

Puisi yang unggul nyaris selalu sejenis tanaman hibrida. Penyair memadukan banyak sifat dari spesies-spesies puisi yang pernah ia baca, yang ia sukai, yang menginspirasinya, dan yang ia gabungkan dalam puisinya.

Karena itu, mengenal bahasa, sebagai medium seni puisi, menjadi sangat penting, seperti mengenal fenotif-dan sekaligus meneliti genotif - tanaman. Teks puisi adalah tubuh bahasa, fenotif yang tampak.

Dikutip dari Buku Menyentuh Jantung Bahasa Meraih Hati Puisi
Esai-esai Sebelas Paragraf Karya Hasan Aspahani

Komentar

Postingan Populer