Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Where We Going?

Buku Bermain-Main Dengan kebenaran

Menyeberang: Sebuah Proses Kreatif

Antologi Sastra Nusantara

Kutipan Bertenaga 12_Kahlil Gibran

Kutipan Bertenaga 11_Kahlil Gibran

Kutipan Bertenaga 10_Kahlil Gibran

Kutipan Bertenaga 9_Khalil Gibran

Lembar SARBI #7 Maret 2013

Sajak yang Dimuat Kompas, 3 Maret 2013

Dalam Antologi Puisi Halte Sastra

Ilustrasi Buku "Sepasang Bibirmu Api"

Kepada Batu