Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Where We Going?

 photo 1-11_zps036650f2.jpg
Detail
 photo 4-7_zpsd1172ed1.jpg  photo 5-2_zps91a7d003.jpg
Placements
 photo 2-12_zpscf3ab589.jpg  photo 3-12_zps49db6b0d.jpg
Dalam konsep ilustrasi ini, saya ingin menceritakan tentang seekor rusa ---yang saya anggap seperti manusia.  seperti akan pergi dari rumahnya. Rumahnya adalah hutan yang telah terbakar dibelakangnya itu. Dia tampak berkemas dengan tas dan kopernya. Tetapi bingung akan melangkah kemana, karena hutan telah terbabat hanya menunggu untuk rata. Konsep lingkungan yang klasik sebenarnya. Untuk gaya, saya mencoba belajar gaya street art yang menyerempet bentuk stensil.


Komentar

Postingan Populer