Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Antologi Sastra Nusantara

 photo _MG_0237copy_zps2b81320d.jpg
 photo _MG_0239copy_zpsdeddc399.jpg
 photo _MG_0240copy_zps30ff459c.jpg
 photo _MG_0241copy_zpsbbdcbe6e.jpg
 photo _MG_0243copy_zps3bb75d89.jpg
10 Puisi dalam Buku Antologi Sastra Nusantara (Puisi) dalam Temu Sastrawan Nusantara -MPU VII, Yogyakarta, 15-17 Oktober 2012 mewakili provinsi Jawa Timur. Bersama R. Giryadi, Alek Subairi, A. Muttaqin dan Tjahjono Widarmanto.
  1. Penunggang Trampolin
  2. Pengabar
  3. Koboi
  4. Mereka Selalu Menyebut di Meja Rias Itu Ada Aku
  5. Memotretmu
  6. Luas
  7. Mandi
  8. Jalan-Jalan ke Pekarangan
  9. Lima Menit dari Televisi
  10. Singgah




Komentar

Postingan Populer