Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Socrates

- Untuk Cen-cen

Semoga Socrates tak marah,
Ketika aku menafsirkan kesukaanya untuk bertanya

Saat kita melepas lelah dengan secangkir kata
Kau perkenalkan aku kepadanya
“Namaku Socrates”, ia menyebut namanya pelan
aku mengangguk perlahan

Tapi aku seperti pernah berjumpa
- dalam baris abjad atau dalam kata yang berangin?
ia tak seperti yang kau cerita
Socrates yang ku jumpa tak berbadan tegak
ia bongkok dengan jalan yang sehat
tak suka berjalan-jalan di gunung dan berteriak : “aku adalah satu”
tapi malah ia suka menghitung bulir-bulir padi
kemudian bertanya : “Mengapa kau merunduk disaat bulirmu lebat?”

Suatu kali aku pernah melihat ia
memikul sekeranjang tahu di tepi jalan yang becek,
bersila dengan para diraja
dan bergumam : “aku adalah nol”

Ah…mungkin ia bukan Socrates
mungkin ia seperti yang kau cerita
atau lebih baik kita bertanya kepadanya

Singosari, 20 Oktober 2005

Komentar

Postingan Populer