Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Jalan-jalan ke Pekarangan

:untuk Eko

1
Sepertimu, aku belajar kepada mata siang
menyalin dan membiakkan nyala remang.
Membenci burung sayap hantu, gigi gagak
di pelataran malam, waktu mereka semedi
dan berembug setan.

2
Tapi kata bapak, siang tak selamanya bersahabat
dengan cicak. Seperti pohon randu yang diam-diam
berkuku, menyembunyikan batangnya yang gembur
dan ranum. Menakuti kecoak iseng yang ingin berteduh.

3
Duhai mimpi, tak pernah ada mengaku siapa berkirim.
Seperti jari-jari langit yang gemas terulur dan pergi,
ke batas perigi ingatan yang kembang-kempis
yang pernah dihuni sepasang kekasih paling tua:
adam dan hawa.

4
Katamu, “bersabarlah, ia akan memberimu jalan mungil ke pakarangan!”

5
Adakah lebih manis dari siksa menghitung domba sebelum tidur?
Berpagut-pagut waktu mengaum, mencibir penantian mungkin juga
perjalanan dari kasur ke kasur. Pekarangan mengabur di antara
ada dan tidak, gelap-terang, jauh-dekat. Kulemparkan saja kailku
sebab aku cinta –kata rombeng yang menyimpan dusta,
ke kuburan, ke plasa, ke minimarket kata-kata.

2007

Komentar

Postingan Populer