Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Tujuhbelas Agustus Duaributujuh

a
Bapak membaca koran
Ibu menanak nasi
Adik bermain HP

Bapak bertanya: “Adik tidak belajar?”
“Iih, ngapain sih, nggak gaul gitu loh!”, kata adik.
“Katanya mau jadi sarjana?”
“Itukan tugas bapak buat carikan uang!”

b
Bapak menyiram bunga
Ibu menjahit celana
Adik jalan-jalan ke mall

Setelah pulang Ibu bertanya:
“Kenapa adik kepingin jadi sarjana”
“Biar cepat kaya, biar bisa belanja selamanya”.

c
Bapak memberi makan perkutut
Ibu arisan di tetangga
Adik menonton TV

Bapak bertanya:
“Adik tidak melamar kerja?”
“Sudah lupa tuh, cara mencari kerja!”

d
Bapak mencabut rumput
Ibu menyapu halaman
Adik berangkat kerja

Sebelum berangkat bapak bertanya:
“bapak dengar adik dituduh korupsi?”
“kapan kita punya kesempatan
mempunyai uang banyak lagi”


Agustus 2007

Komentar

Postingan Populer