Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Lelaki dengan Sebatang Rokok di Jarinya

Di tepi jalan dekat pasar, lelaki itu berkacak pinggang menghadap jalan.
Memandang orang berlalu-lalang, sambil sesekali menghisap dalam-dalam,
lintingan tembakau bermerek perahu layar. Setelah itu asapnya ditiup-tiupkanya
ke udara, membuatnya berbentuk bulat-bulat putih. Sepertinya ia memang benar-benar ahli, meramu asap jadi aksi. Dengan kata lain, ia seorang perokok sejati,
yang sering membayangkan setiap orang memandangnya, di tepi jalan yang
berdebu itu, di siang yang mengundang peluh itu, ia berkesempatan meneriakkan:
“Hei, bukankah aku mirip koboi?”. Orang-orang memang tersentak,
tapi untuk sesuatu yang lain. Bukan ia. Ada.

Sidoarjo, Oktober 2007

Komentar

Postingan Populer