Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Mandi di Rumah Raja Ali Haji

a
setelah mandi dirumahmu bapak, badanku jadi meriang,
luka masih saja suka datang tanpa mengucap salam,
terus saja menumpuk dan terlupakan: “ternyata aku
sering terluka di jalan-jalan mungil ini, bahkan aku menikmati
nyerinya dan tak tahu kapan menyembuhkannya,
ia sangat menggoda” .

b
pantaskah aku mengatakan: “I’m lucky man”
hanya karena aku pernah mengucapkan kalimat dari
rongsokan silsilah. kemudian pura-pura menjadi penyair,
punya sayap kecil di punggung seperti burung,
menyusuri langit dan hinggap kemana aku suka,
biar aku gemar menduga-duga: “ternyata aku bukan
milikku sendiri?”, setelah itu ada bisik: “Ada yang rindu,
gemas ingin mempermainkanmu”.

c
langit dengan perabotannya: perlukah aku harus menangis,
bukannya aku tak bisa menangis, bukan juga aku tak mampu
mencuri air mata, tapi telah lama aku tidak bersedih. terus –
menerus asik menjadi binatang melata yang seksi, padahal
telah lama aku mendengar kita akan menjadi zombi.

d
mereka berbohong kepadaku, dengan mengatakan:
“hidup ini tak bertepi”, saat ku mandi dirumahmu
bapak, hidup seperti semangkuk sup ayam lezat siap
disantap. tapi selalu saja ada yang menawariku selautan
mi ayam. mau?


---Tafsir bebas Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, untuk sayembara penulisan puisi dewan kesenian Kepualauan Riau---

Agustus 2007

Komentar

Postingan Populer