Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Senja Terakhir

: LiC benarkah sungguh?

“Barangkali senja adalah gapura, tempat kita
mengucapkan selamat tinggal”, kata lelaki itu,
seperti mengucap begitu saja kepada perempuan
disampingnya.

“Barangkali mengucap selamat tinggal seperti
mengemasi serak kenangan”, sambil berbicara,
ia memandang jauh di sudut jingga langit itu,
seakan ia akan menempuh perjalanan jauh.

“Barangkali mengemasi serak kenangan adalah
melupakan bagaimana cara kita harus bersedih”,
wajahnya kemudian berkeringat seperti ada pesan
yang menyumbat di kerongkongannya.

“Barangkali melupakan cara bersedih seperti
membujuk rasa cemas dan pertanyaan yang
kerap lewat: apakah senja adalah kawan lelaki tua
dengan jubah terjulai sampai ke lantai serta celurit
yang menghadang di angkasa?”, ia kini semakin letih,
hanya terdengar suara camar yang pelan-pelan
merambat ke tempat itu.

Agustus, 2007

Komentar

Postingan Populer