Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Idul Fitri 1

Kulihat kau berjalan di samping rel kereta, tepi jalan raya.
Bersarung coklat, berkemeja hijau muda. Pagi itu udara kemuning.
Jalan-jalan meriah. Tapi sudah lama aku tak melihatmu,
sejak ibumu bercerita kepadaku kau berangkat merantau ke Jakarta.

Dari jauh kau tak melambai, wajahmu banyak berubah dan senyum pun
tak ada. Mungkin ia sudak lupa. Tapi saat dekat, segera dijabatnya tanganku
erat-erat. Tangan kirinya menepuk-nepuk bahuku. Tak ada tanya, hanya senyum
yang ia kembangkan begitu saja.

Oktober - Idul Fitri 1428 H

Komentar

Postingan Populer