Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2008

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Shadow In Your Face

Kekasihku 30: Pintu

Design yang dimuat di E-Zine WOWMAGZ Issue03

EsCola News

Good Night Tree and My Town

Republik Gawat Darurat: Tempat Pestanya Para Maling

Bored going hunting the life

Walpaper Minimalis Romantic No 4

Walpaper Minimalis Romantic No 3

Walpaper Minimalis Romantic No 2

Walpaper Minimalis Romantic No 1

Gapura Kerajaan Langit

Sound Of Live

1 Minggu = 7 Hari

Kekasihku 29: Luas

Butterfly

Remember The Animal And Plant

Bangsa Ini Bangsa yang Sakit

E-Invitation #3

E-Invitation #2

E-Invitation #1

Boneka Keramik

BILA

Mitos Kamar Tidur

Taman Rahasia No 2

Taman Rahasia No 1

Book Cover

Ketika Benda-Benda Menjadi Misterius

I Wanna Have Another Life