Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 30: Pintu

Masuklah ke pintuku sayang. aku telah lelah mengecoh sepi.
sudah berulangkali kuputar musik keras tapi bandul jam masih saja
bergoyang bergoyang dimataku, seperti hendak menyihir.
bukalah, nyalakan rokok untukku, agar aku dapat nampang dihadapmu
bergaya seperti penyair garang membujuk sepi dengan kata kata.
atau lebih cocok menjadi bandit saja, memburu sepi dengan senjata.

Ayunkan kakimu, tak usah ragu. bukankah kunci pintuku
telah lama kuberikan kepadamu. dan aku selalu berpesan,
“mainlah ke pintuku bila ada waktu, nanti kita tumpas sepi
bersama sama dengan cara paling mesra.” tapi rayuku tak selalu
ampuh mengalahkan bujuk advertorial, diskon besar, seringkali
kau tukarkan sepimu disana. setelah itu kau tunjukkan koleksi
terbarumu: kaos bergambar kuburan.

Masuklah, putar kunci itu dengan pelan. dan kau akan menemukan aku
yang babakbelur dihajar sepi. bagaimanapun menunggu bukanlah
pekerjaan gampang. jika nada handphonemu selalu berbunyi:
“nomor yang anda tuju sedang sibuk”, kataku. sejak saat itu,
sambil menunggumu aku memutuskan menjadi tukang kebun.
merawat bermacam tanaman menjadi cara paling mudah
menjinakkan sepi.

Silakan masuk, kataku. tak usah kau berdiri di depan pintu.
matikan handphonemu, aku tak ingin siapa pun mengganggu.
kita akan menyemarakkan sepi. berpetualang dari pintu ke pintu.
meski setiap kunci akan melipatgandakan sepi. berulangkali.

Desember, 2008

Komentar

Postingan Populer