Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

1 Minggu = 7 Hari

entah sejak kapan, matahari muncul dan tenggelam
diberi nama. nama yang dapat mengukur umurmu,
bila kamu beruntung. ukuran yang membuatnya
mempunyai kaki seorang penari. melengkung
dan melenting silih berganti.

bila saatnya tiba, ia akan mengantarmu dengan ramah
(saat langit berkabut atau saat daun-daun pergi). untuk
menelentangkan badanmu selebarnya. menikmati
semua kutu membawa pergi semua perih dipunggungmu
sama rata. menikmati angin yang membersihkan bau badanmu,
mengkembungkan perutmu. saat itu kamu dengan sukarela
memejamkan mata.

Mei, 2008

Komentar

Postingan Populer