Napak Tilas waktu
MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imung Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya dengan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi daging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditampung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau peristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair. Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...
Komentar
"Senang, Puas, dan Bangga pernah menjadi bagian dari sejarah Escola. Memaknai sisi lain Kehidupan kaum Putih Abu2,.. Banyak kesan dan pengalaman dari sebuah media yang berakar mimpi dan tekad, meski hanya berumur 2 masa tanam padi,... tapi tak apalah karena sekarang telah Ku dapat ganti yang tak kalah asyiknya,... Buat seluruh purna kru, owner/ komisaris, sobat Escola, sponsor, dan simpatisan Senang pernah Bekerja Sama,...... "(Aga)
...eSCola adalah ex-Indiers yang pengen "mbabat alas" tapi alase terlalu "lebat" (kayaknya begitu kira-kira, he..he..he..). Paling tidak di situlah pesona repo(t)er pers yang sebenarnya.
Salam buat kru dan sahabat eSCola
(roe)