Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Pameran BUAH KHULDI

 photo File0109 copy_zpspywvkc8j.jpg

 photo File0117 copy_zpsf9pcu40j.jpg

 photo File0116 copy_zpszwou5wbk.jpg

 photo File0120 copy_zps6tv5p9a7.jpg

 photo File0122 copy_zpsv3exmieg.jpg

 photo File0123 copy_zps9xooyj8v.jpg

 photo File0125 copy_zps7e9bsfe9.jpg

 photo File0130 copy_zpses5ddtvy.jpg

 photo File0134 copy_zpsnrqmeomb.jpg

 photo File0135 copy_zpsrma2gcqp.jpg

Membincang buah Khuldi sebagai sebuah gagasan tema untuk berkarya, sama halnya dengan membincang sejarah peradaban umat manusia. Sebuah tema, --yang sepertinya tak bakal usang untuk di pantik lagi menjadi sebuah proses kreatif berkarya berulangkali. Seperti yang saya jumpai pada pameran di galeri seni House Of Sampoerna pada suatu siang 7 Maret 2015 ini, ketika saya berhasil menyelinap dari teriknya jalanan kota Surabaya untuk singgah barang sejenak menikmati kegemaran saya menikmati seni rupa.

Menikmati beberapa karya dalam pameran ini saya seperti disuguhkan keberagaman karya baik dari gaya maupun materi. Pada pameran seni rupa ini tidak melulu kita disuguhi karya lukisan acrylic atau cat minyak di atas kanvas. Tetapi beragam sekali ekseskusinya. Misal karya fotografi, sketsa mix media, maupun karya instalasi. Pada lukisan di atas kanvas pun coraknya beragam. Bergaya "pop" pun juga telah ada. Karya-karya semacam ini sangat sulit saya temukan beberapa tahun lalu ketika saya mengunjungi beberapa pameran di Surabaya. Tetapi kecenderuangan sekarang telah berbeda. Beberapa seniman telah mencoba mengeksplorasi dengan beragam materi

Dari kunjungan singkat itu, ada beberapa karya yang begitu membekas pada ingatan saya. Pertama, tentu saja karya fotografi berupa sosok wajah-wajah dengan coretan yang membentuk rupa tertentu pada wajah orang-orang. Ada beberapa seri karya tersebut. Kedua, karya sketsa atau barangkali stensil yang ditumpuk-tumpuk di atas kertas berwarna coklat, seperti sebuah kolase. Saya menikmati karya-karya seperti ini. Ketiga, karya cukil kayu, yang ditebali menggunakan tinta hitam. Tampilan karya ini seperti menggambarkan sebuah chaos. Ada monster dan kegaduhan umat manusia. Sayang sekali saya tidak mencatat judul-judul karya tersebut sehingga apresiasi sedikit terkendala untuk memperluas makna.  

__________________________

Pameran Seni Rupa "Buah Khuldi"
Galeri Seni House Of Sampoerna - Surabaya
Kerja " Serbuk Kayu"


Komentar

Postingan Populer