Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Ruang Kata, 24 Desember 2014

 photo promofacebookcopy_zps3c8629dd.jpg

 photo 1377557_590988507668619_5777556177660596392_n_zpsc6387971.jpg

 photo 1528537_590988151001988_1266743707960104671_n_zps65f9fe54.jpg

 photo 8981_590988457668624_2918769918229993603_n_zps2b75d84c.jpg

Perkembangan kegiatan literasi akhir-akhir ini semakin pesat, baik karena perkembangan teknologi di bidang komunikasi digital khususnya media sosial maupun semakin canggihnya dunia percetakan yang membuat setiap orang dapat menerbitkan karyanya sendiri. Karena perkembangan-perkembangan tersebut memungkinkan, barangkali juga memudahkan setiap orang untuk menyatakan dirinya terlebih di bidang literasi.

Namun diantara perkembangan tersebut kita patut bersedih adalah minimnya ruang-ruang atau lembaga apresiasi untuk berdiskusi serta berkumpul bersama untuk mendorong dan mengkoreksi karya. Yang lebih penting lagi adalah ruang untuk berbagi dan saling memberi inspirasi untuk tumbuh bersama dalam berkarya.

Ruang yang bisa menghadirkan sebuah sosok yang berdarah daging yang dapat bertemu muka. Yang dapat bersuara dan mengelurkan pendapat. Karena alasan-alasan tersebut kegiatan ini saya rintis dengan didukung penuh oleh Baitkata Library dan mbak Ifa sebagai pengelola.

Kegiatan pertama temu ini menghadirkan R. Giryadi seniman Jawa Timur, mantan ketua komite teater Dewan Kesenian Jawa Timur (2008-2013). Selain bergiat di teater ia banyak menulis cerpen, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media baik nasional maupun lokal. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit adalah Mimpi Jakarta (2006) dan Dongeng Negeri Lumut (2011).

Komentar

Postingan Populer