Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Perempuan Berambut Perak

: Untuk kisah Amru

Perempuan berambut perak dengan luka tembak
dan sisa arak. kau panggil, saat musim dingin yang getir.
pada angin, dan beringin yang alir di air matamu.

Seperti ikan nenas, ikan kuning merah yang meretas di keningmu.
saat surut serta hanyut menggenang di dadamu.
disana perempuan itu menemukanmu dengan
cadar dan lapar yang bergentayangan.

Kau buka lipatan-lipatan sungainya, saat segrak mengarak.
kau tenggak seribu onak yang menggelegak pada sepi merahmu.
Ia malam berselimut rusa dan mantra-mantra. yang mengucap
serumpun janji yang mengerak, mengertap pada bising
dan asing yang melenting dihatimu. jawablah apa ini yang kau duga?
igauan mata bunda dan lesap cahaya yang membangunkanmu
dari keraguan, jalan lengang menuju pulang?

Saat ini, mungkin tak ada lagi rahasia yang kau nikmati saat sembunyi
dan mewanti. sebab ia bersengat kelabang yang lebih hitam
dari mawar dan kumbang. yang memberi tanda dua duka dilehermu yang
paling dalam, dan kau tak akan pernah mampu mengucapkan selamat tinggal.

Februari, 2008

Komentar

Postingan Populer