Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 27: Sepasang Kekasih, Saling Mencuri

Seperti toko yang menyimpan bermacam kebahagiaan.
kita pun diam-diam saling menjarah. saling menguntit.
menunggu kesempatan terbaik. saat-saat lengah.

Untuk itu kita sering mengasingkan diri. ke plasa-plasa,
yang disana tak tersedia gema. keramaiaan
hanya gundah bagi petapa, yang merindukan
tangan cerdik untuk melukai dan menyembuhkan diri.
bukankah itu bekal terbaik bagi sepasang pencuri?

Sudah terhapus semua nama di telpon genggammu,
di sepertiga otakmu. sejak itu kita berbahagia menjadi
yatim piatu, tak beralamat ovum dan sperma. mengejek
waktu dengan mendaki bukit-bukit kenyal, tebing-tebing
bual. meyakini mimpi tak bertepi, tak berbelit, seperti hari
minggu yang genit.

Lihatlah siapa tergesit? mencecap liat kulit bercita rasa coklat
dan kilat. permen-permen mini pemberi rasa manis,
yang membiarkan lapar terus berkelana di lidah ingatan.
di bibir, muara es krim mencairkan pengkhianatan dan kejujuran.
disana kita berjumpa seperti ksatria jumawa.

Apa yang akan kita curi lagi. sebab semua tak bersisa.
hanya kemilau sepi yang tertatih-tatih, memungut hujan
dan remah malam. tanganmu telah menjulur-julur gatal.
sebelum kau sambar, ia lebih baik kusembunyikan.

: kelak ia yang mengekalkan kita sebagai pencuri sejati!

Februari, 2008

Komentar

Postingan Populer