Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Kekasihku 28: Ucapan Selamat Tidur Buatmu

Selamat tidur sayang, selamat menikmati rambut-rambut malam
yang menjamahi mimpimu dengan pelan dan sabar.
menghangatkannya dalam waktu.
sampai menguap lesap cinta yang terperam dalam pejam
dan memurnikannya dalam kenang.

Tidurlah, sampirkan tubuhmu, ikhlaskan untuk sementara
biarkan bulan memijat ngilu nasibmu hingga di sendi-sendi
yang terdalam. membasuh semua erangan dan dendam
yang mencakarmu dalam perang tanpa akhir dan awal.

Pejamkanlah matamu tanpa keraguan, sayang. karena
jalanmu tak bercecabang. seperti kelok ular yang licin
dan garang, tentu kau meradang. maka tidurlah, ucapkan
selamat tinggal untuk sejenak kepada cahaya. biar esok
sempat kau saksikan, subuh melenguh dengan mulut jingga,
disana berterbangan remah-remah merpati di kelokan-kelokan
tak terduga. meski bukan surga akankah kita melewatkannya?

Februari, 2008

Komentar

Postingan Populer