Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Sore

barangkali inilah kebahagian yang kamu cari :

langit langit berawan tipis. senja tak sempurna.
tapi kita masih dapat menikmati terangnya.

mendengar suara anak-anak yang mengejar bola.
sebagian bolak balik bersepeda. suaranya ringan
diluncurkan begitu saja.

melihat ibu atau bapak, tetangga tetanggamu.
yang membopong bayinya, menggelindingkan
sepeda roda tiganya. sembari menyuapkan
sesendok nasi.

bergerombol dengan orang orang terdekat di depan rumah.
berulangkali menduga duga. siapa yang berjalan
diujung jalan sana? kemudian menyapa
mereka yang berjalan kaki. melintas.

menertawakan ibu dan anak-anak yang
menaiki gerobak kuda. yang berayun-ayun
tak pasti. sesekali mereka melambai.

setelah itu semua ditutup suara qiroa magrib.
saat itu ujung langit telah memerah.
semerah perasaanmu.

barangkali ini kebahagian yang kamu cari.
yang selama ini kamu risaukan. mungkin.

Januari 2009

Komentar

Postingan Populer