Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Selamat Datang Sepi

Badanku aku telentangkan selebarnya
diatas lantai. aku pejamkan mata
agar kamu dapat berkunjung dengan
mudah, memasuki mataku yang keruh.
kemudian menyalamiku seperti deru
mobil di kejauhan yang mendekat
lenyap, berulangkali.

lakukan hal sesukamu. pilih badanku
yang teragu. saat ini aku tak ingin ribut
apalagi menyumpahmu. sementara aku
simpan semua sajak perlawananku.

aku menyambutmu, datanglah. menikmati
segelas sengat sedihmu yang bertubi.
mendengar sayapmu bergetar menghuni
rapat kamarku. seperti benang diulur
dilatar hitam. melengking, tak putus-putus.

Januari 2009

Komentar

Postingan Populer