Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

The Crow

Cheese Boundary Store

Special Wedding Invitation Design for Nelly and Wahyu

Where My Shoes

TreeBird

We Love Scooters

Time To Say GoodBay

GEN T299 SMPN 1 SIDOARJO

Catatan Kemelut

Menanam Pohon Mangga

Kekasihku 32: Yang Pernah Singgah di Kepala Kita

Percakapan dengan Seorang Tamu yang Tak Diundang

Kekasihku 32: 14 Februari

Kekasihku 31: Setelah Hujan

Superb Humans Ambitions

My Illustration publish on E-Zine Iniciativa Colectiva May 2009/ No 3 Vol 2

Si Jabrik dan teman-teman