Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Lembar SARBI #8 Desember 2013

 photo covercopy_zps120e9b09.jpg

 photo daftarisicopy_zps99bd99fc.jpg

 photo hlm28-29copy_zps967d1ed8.jpg

Dari Redaksi

PARADE

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Perayaan ini bukan semacam festival yang menghendaki kehadiran khalayak banyak dan menghabiskan sekian biaya. Parade? Bukankah parade juga dapat ditampilkan dalam satu tempat sederhana, namun tetap dapat dinikmati oleh khalayak luas.

Keberagaman teks memang bertebaran, bahkan mungkin menyinggahi layar ponsel kala waktu te­ngah memburu perjalanan. Bisa pula ia dengan kurang ajar menyisip di tengah ruang hening toilet. Hal serupa pun (mungkin) juga ditemukan pada seni rupa kita. Apakah parade ini harus terjadi di dalam galeri nan mahal? Bisa jadi, di tengah kemacetan kota, dinding-dinding pagar bangunan ini menyuguhkan sedikit jeda.

Maka, mengemas parade dalam sebuah wadah sederhana nan dapat disinggahi khalayak adalah keniscayaan. Semangat itu mungkin akan selalu muncul bila tetap berpegang pada kebebasan. Sekian aturan yang hanya menghambat gerak perubahan akan diterabas karena inti dari parade adalah perayaan ekspresi. Semestinya, parade adalah milik semua orang. (Aduh, malam terang ini membuat kami gemar mengigau!)

SARBI

________________________________

Lembar SARBI edisi 8 Desember 2013

- Kulit Muka
Angkasapura

- Penulis
1. Ledo Ivo
2. Choirul Wadud
3. Oktarano Sazano
4. Misbahus Surur
5. Bagus Burham
6. Ramayda Akmal
7. Selendang Sulaiman
8. F. DausAR
9. Much Khoiri
10. Akmad Fatoni

- Perupa
1. CyrilBerthault-Jacquier
2. Siddharta
3. Kristijan Jerkovic
4. KepalaKardus
5. Staats Fasoldt
6. Wahyu Nugroho
7. Spyros Verykios
8. X-Go W
9. Alan Taylor Jeffries

-Pemusik
TeguhSukaryo

Lembar SARBI edisi 8 versi flash player dapat diunduh di link ini: klik

Versi PDF: klik

Versi cetak hitam putih menggunakan kertas bookpaper
dapat dipesan di redaksi dengan sms No 085851857130

*Kritik, saran dan semua yang hendak dikirim perihal SARBI
dapat dialamatkan ke sarbikita@gmail.com



TERIMA KASIH

Komentar

Postingan Populer