Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Pameran Seni Rupa: Hidup dan Mati di Tanah Sengketa

 photo IMG_0034copy_zps062dd2b0.jpg

 photo IMG_0035copy_zps5d65574e.jpg

 photo IMG_0037copy_zps732afc64.jpg

 photo IMG_0040copy_zps14fa9ca2.jpg

 photo IMG_0048copy_zps2adea762.jpg

 photo IMG_0050copy_zps21ed9961.jpg

 photo IMG_0053copy_zpsd6b645b2.jpg

 photo IMG_0054copy_zps4e2cd191.jpg

 photo IMG_0059copy_zpsd9bc64b4.jpg

 photo IMG_0061copy_zpsdf13dc70.jpg

 photo IMG_0064copy_zpsf7561c9f.jpg

 photo IMG_0065copy_zpse2e041cd.jpg


Menikmati pameran seni rupa “Hidup dan Mati di Tanah Sengketa” di hari minggu 7 September 2014, tepat menjelang siang. Seperti memberi oase pada kehidupan saya yang akhir-akhir ini tampak menjadi monoton. Saya beberapa bulan ini memang sering absen dan ketinggalan informasi mengenai kegiatan kesenian di surabaya dan sekitarnya. Barangkali kemalasan yang terus mendera atau berbagai kesibukan yang kerap datang silih berganti.  Apapun itu disela-sela waktu yang begitu cepat berputar saya hendak menikmati segala peristiwa kehidupan dan menikmati kegiatan-kegiatan seperti ini.

Pameran yang diadakan oleh komunitas indipenden seperti ini seringkali memang mengejutkan, setidaknya dari tempat pameran ini yang mengambil tempat di rumah tua yang bercorak rumah tionghoa, ukurannya cukup besar namun seperti sudah tidak terawat. Tapi hal semacam itu menjadi unik dan pas dengan tema yang diusung. Pameran ini sebenarnya hendak merespon peristiwa sosial yang terjadi di tambak bayan-Surabaya di tempat pameran. Sebelum mengungungi pameran ini saya berpikir sengketa tanah ini adalah konflik vertikal antara pemerintah dan penduduk setempat yang berasal dari keluarga tionghoa. Setelah datang dan menikmati wacana dari berbagai sajian pameran saya berkesimpulan, konflik yang telah lampau ini adalah perebutan tanah sengketa antara keluarga tionghoa satu dengan tinghoa yang lain. Yang lain disini maksudnya adalah pemilik hotel dekat tempat pameran berlangsung. Konflik ini ternyata sudah berlangsung lama dan seperting belum ada penyelesaian.

Sajian pameran ini beragam mulai dari komik, fotografi, intalasi media, ilustrasi bahkan musik. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk membeli dan mengkoleksi komiknya yang lumayan tebal dan dikerjakan sangat bagus. Namun sayang dompet di kantong sedang tidak bersahabat.

________________________________

Pameran Seni Rupa Hidup dan Mati di Tanah Sengketa
Tambak Bayan - Surabaya
5-7 September 2014
Kerja Milisi Fotocopy


Komentar

Postingan Populer