Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

Membakar Malam

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Judul Buku : Membakar Malam
Penyunting : Heru Susanto
Pengantar : Dody Kristianto
Even : Design & Layout untuk buku puisi siswa SMP Islam AL-Azhar 13 Surabaya
Tahun : 2011

* Konsep awalnya saya ingin gambar pertama menjadi ilustrasi utama, seorang perempuan yang berteriak pada suatu malam ditengah gelap kota. Seperti orang yang sedang membaca puisi dengan dramatisasinya. Tapi ini nampaknya tidak disetujui. Sekolah Al-Azhar tidak membolehkan ada objek manusia.Oleh karena itu saya menghilangkan objek manusianya dan memprioritaskan objek cover di suasana malam di sebuah kota itu. Ketika dihilangkan, cover itu tetap tidak kehilangan esensinya. Dan masih cukup menarik menjadi cover kumpulan puisi ini.

Komentar

Postingan Populer