Langsung ke konten utama

Unggulan

Napak Tilas waktu

MENERIMA manuskrip puisi Imung Mulyanto, seakan tak sabar saya segera membacanya. Sebagai seorang jurnalis tulen, Imu­ng Mulyanto adalah sang terampil pengolah seluk beluk frasa dan kata. Tentu saja uraian kalimatnya bakal purna tersaji dalam barisan puisi. Malang melintangnya dalam berbagai peristiwa, perjalanannya ke berbagai arah membuat puisinya kaya de­ngan nilai. Meski jiwa jurnalisnya telah mengakar, tapi da­ging kemanusiannya tak dapat dibendung untuk turut memberi simpati dan empati. Dengan puisilah hal tersebut dapat ditam­pung, jiwa-jiwa manusia terdalam. Simak puisi ini; Mengapa di Santerra De Laponte tak ada kemarau? / Padahal di rumahku panas dan gersang,/tak bertumbuh bunga cinta setangkai pun! Bukankah kemarau pe­ristiwa alam yang biasa dan wajar? Apa hubunganya dengan rumah dan tumbuh bunga cinta? Bagi saya itu ruang penyair.  Pada bagian 1, Imung Mulyanto seakan menyambangi berbagai peristiwa alam, flora fauna seolah membisik pelan pesan-pesan, dan si penyair me...

My Illustration publish on E-Zine Iniciativa Colectiva May 2009/ No 3 Vol 2

Photobucket

Big tanks to Nicole Andujar, Editor in Chief Iniciativa Colectiva for trust and give me opportunity show my best artwork "Republik Gawat Darurat: Tempat Pestanya Para Maling" and " Bored Going Hunting The Life". And all friends tanks for support, you can visit and download this magz, free download. Click then to web
"iniciativacolectiva" click then for download "Free Download" enjoy!

Komentar

Ariyanto S. mengatakan…
Congrats y! :)

Postingan Populer